Advertising

Mengapa Negara Tidak Mencetak Uang Sebanyak-Banyaknya?

Uang, Keuntungan, Keuangan, Bisnis, Kembali, Hasil, Kas

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan di Indonesia pada September 2019 sebesar 9,22%  dari jumlah penduduk Indonesia atau setara dengan 24,79 juta orang.

Kemudian dalam lima tahun terakhir, jumlah pengangguran di Indonesia memang cenderung menurun. Namun pada Februari 2020, angka pengangguran kembali meningkat 60 ribu orang. Dari 6,82 juta orang pada 2019 menjadi 6,88 juta orang setahun setelahnya.

Bahkan posisi utang Pemerintah per akhir Maret 2020 mencapai Rp 5.192,56 triliun. Utang ini mengalami kenaikan sebesar Rp 244,38 triliun dibandingkan dengan Februari yang tercatat Rp 4.948,18 triliun.

Ditambah lagi negara sedang berlarut-larut menangani masalah Pandemi COVID-19, utang negara pun semakin kalang kabut. 

Banyak dari kita yang mungkin sering berandai-andai untuk mencetak uang sebanyak-banyaknya agar negara kita menjadi kaya dan tidak ada orang miskin. Negara kita terbebas dari utang dan semua orang tidak perlu bekerja keras mencari uang. Ya, saya sendiri pun pernah membayangkan hal tersebut ketika SD. Sekarang, saya sadar begitu lugu dan idiotnya saya waktu itu haha..

Lantas kenapa negara tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya?

Jawaban singkatnya, jelas tidak bisa!

Supaya lebih mudah dipahami, saya uraikan alasan-alasan negara tidak bisa mencetak uang sebanyak-banyaknya!

1. Memicu Inflasi Tinggi

Intinya, negara tidak akan bisa mencetak uang sebanyak-banyaknya. 

"Karena kurang bahan bakunya?"

Bukan! Bukan itu!

Negara tidak bisa melakukan hal tersebut karena dapat mengakibatkan inflasi tingkat tinggi. Apa itu Inflasi? Inflasi adalah suatu kondisi di mana harga barang-barang pemenuh kebutuhan meningkat secara umum dan terjadi dalam waktu yang lama.

"Tapi bukannya daging sapi juga sering naik kalau mau lebaran? Apa itu juga inflasi?"

Bukan, inflasi itu terjadi ketika barang-barang secara umum mengalami kenaikan harga dan terjadi dalam waktu yang lama. Misalnya, jika harga sembako dan bahan-bahan kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga serta terjadi dalam waktu yang lama, maka itu merupakan contoh inflasi.

Sederhananya, peredaran jumlah uang di masyarakat dan jumlah barang yang dibutuhkan masyarakat haruslah seimbang.

Logikanya seperti ini, jika pemerintah mencetak uang terlalu banyak, maka kita sebagai masyarakat juga akan memiliki banyak uang. Tentunya hal tersebut membuat kemampuan kita membeli barang atau jasa semakin tinggi. Ditambah lagi dengan sifat alami manusia yang serakah akan membuat kita semakin bernafsu untuk membeli banyak barang.

Akibatnya, barang-barang yang dibutuhkan jumlahnya akan berkurang. Supaya tidak terjadi kelangkaan barang, maka otomatis harga dari barang-barang yang dibutuhkan tersebut akan naik. Hal tersebut dapat membuat daya beli masyarakat menurun dan menyeimbangkan kembali antara peredaran jumlah uang dengan jumlah barang yang dibutuhkan.

Dengan kata lain, mencetak uang sebanyak-banyaknya tidak akan mengubah apa-apa kecuali mengurangi nilai mata uang itu sendiri. Akhirnya, uang semakin lama semakin tidak berharga karena jumlahnya yang terlalu banyak.

Contohnya terjadi pada negara Zimbabwe. Zimbabwe pernah mengalami inflasi hingga 11,250 juta persen bahkan pernah menyentuh 231 juta persen pada 2008. Tingginya angka inflasi mendorong negara ini melakukan redenominasi mata uang, dengan menyederhanakan uang 10 miliar dolar Zimbabwe menjadi 1 dolar Zimbabwe atau menghilangkan 10 angka nol. Harga telur di sana saat itu bisa mencapai angka milyaran dollar Zimbabwe. Sangat fantastis, bukan?

Kemudian, negara Jerman juga pernah mengalami hyper inflasi. Setelah kalah pada perang dunia pertama dan harus menanggung biaya kerugian perang, mereka mencetak uang yang sangat banyak. Akibatnya, uang menjadi tidak berharga. Saking tidak berharganya, uang di sana dipakai untuk mainan, menyalakan api kompor, hingga menjadi penghias dinding di rumah.

Tidak ketinggalan, negara Hungaria setelah perang dunia kedua, pernah memiliki uang kertas dengan nominal 1.000.000.000.000.000.000.000 (satu milyar triliun) menjadikannya sebagai salah satu inflasi terparah sepanjang sejarah.

2. Utang luar negeri membengkak 

Risiko utang luar negeri yang naik tajam merupakan efek domino dari anjloknya mata uang rupiah terhadap mata uang asing. Semakin nilainya merosot, maka otomatis membuat utang luar negeri bisa semakin membengkak. 

Bank Indonesia berbeda dengan bank sentral AS Federal Reserve yang dapat dengan bebas mencetak dollar AS. Mata uang Negeri Paman Sam dipakai oleh sebanyak 85 persen transaksi ekspor-impor dunia, sedangkan rupiah tidak diakui mata uang yang dipakai secara internasional. 

3. PHK besar-besaran

Jumlah uang yang beredar terlalu banyak bisa membuat daya beli masyarakat anjlok. Ini terjadi saat uang yang beredar tak sebanding dengan produksi barang/jasa. Otomatis, harga barang-barang yang dibutuhkan akan meningkat tajam.

Hal tersebut membuat daya beli masyarakat menurun. Karena lemahnya daya beli masyarakat, banyak perusahaan terpaksa menurunkan atau menahan produksi mereka yang berimbas pada langkah pengurangan karyawan. 

Selain itu, hal ini dipandang investor sebagai risiko, sehingga mereka juga tak tertarik berinvestasi di Indonesia. Dalam kondisi parah, investor akan menarik modalnya di Indonesia.

Nah, sekarang sudah jelas, kan? Mencetak uang sebanyak-banyaknya tidak akan mengubah nasib negara kita menjadi kaya. Justru, dapat menimbulkan masalah-masalah lain khususnya di bidang perekonomian. Tapi tahukah Anda? Indonesia sendiri sebenarnya punya catatan sejarah mencetak uang lebih banyak saat terjadi krisis, tepatnya di era Presiden Soekarno. Saat itu, uang yang dicetak tersebut banyak digunakan untuk membangun proyek-proyek mercusuar seperti Monas, GBK, hingga Hotel Indonesia. 

Posting Komentar

0 Komentar