Advertising

Usulan Sekolah 3 Hari Ala Kak Seto

Kak Seto Mengusulkan "Kurikulum Millenial" Kepada Nadiem Makarim (Sumber: Tribun Padang)

Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si. atau yang lebih dikenal sebagai Kak Seto adalah seorang psikolog anak yang sekarang menjabat sebagai ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI). Semenjak Nadiem Makarim menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), pendidikan di Indonesia menjadi semakin sering disorot oleh publik, termasuk oleh Kak Seto. Akhir-akhir ini pernyataan yang dilontarkan beliau cukup membuat publik heboh dimana beliau mengusulkan kepada Nadiem Makarim kalau pelajar di Indonesia sebenarnya hanya perlu sekolah selama 3 hari dalam seminggu. Itu pun menurutnya 3 jam sehari saja sudah cukup, agar anak-anak tidak merasa bosan dan tertekan dengan sekolah.

Mungkin sudah bisa ditebak, meskipun masih berupa usulan, apa yang disampaikan oleh Kak Seto itu mengundang kontroversi bagi publik. Sebagian setuju, sebagian lagi tidak. Tapi harus diakui kalau pernyataan Kak Seto tersebut disambut meriah oleh para pelajar di Indonesia. Apa yang beliau sampaikan tentunya mewakili suara mayoritas pelajar di Indonesia. Jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia memang memiliki waktu di sekolah lebih lama, belum lagi termasuk bimbel dan les ini-itu, bahkan waktu malam seringkali dihabiskan untuk mengerjakan tugas atau PR.

“Seharusnya kurikulum itu untuk anak, bukan anak untuk kurikulum”. Begitulah pernyataan yang dilontarkan Kak Seto mengenai gambaran pendidikan di Indonesia saat ini. Menurut beliau, dengan penerapan sekolah selama 3 hari dalam seminggu itu, semua anak-anak menjadi sangat senang belajar. Mengacu pada pasal 13 ayat 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal (sekolah biasa), nonformal (bimbel), dan informal (homeschooling). Beliau menyarankan sekolah 3 hari dalam seminggu karena beliau mengacu pada lingkungan belajar di sekolah formal yang belum mendorong keinginan anak untuk belajar.

Apa yang beliau lihat adalah sekolah formal kebanyakan justru membuat anak tertekan dan menjadikan mereka enggan untuk belajar. Menurut beliau, masing-masing anak mempunyai karakter dan kebutuhan yang berbeda-beda terutama dalam hal belajar. Jadi kurikulum pendidikan yang diterapkan harusnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak. Mengacu pada pasal 4 ayat 4 UU Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan yang diselenggarakan seharusnya memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.

Kak Seto memastikan bahwa apa yang disampaikannya bukan sekedar omong kosong belaka. Beliau sudah menguji coba usulan tersebut selama 13 tahun di homeschooling miliknya yang berlokasi di Bintaro, Tangerang Selatan. Di lembaga tersebut, sekolah hanya berlangsung selama 3 hari dalam seminggu serta perharinya hanya 3 jam. Meski waktu belajarnya sebentar, tapi lulusannya banyak yang diterima di universitas bergengsi seperti Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, ITB, IPB, USU, Unhas, dan lain sebagainya. Pelajar binaannya juga banyak yang sukses di bidang-bidang non akademik seperti bisnis dan olahraga. Menurutnya, ini terjadi karena anak-anak merasa senang ketika bersekolah.

Sekolah tiga hari adalah ide yang relatif baru dan inovatif yang populer di kalangan siswa dan guru di seluruh Indonesia. Bagi sebagian orang, keuntungan untuk menghadiri sekolah hanya tiga hari/minggu jauh lebih besar daripada potensi kerugiannya. Lalu, apa saja keuntungan dari usulan Kak Seto tersebut? Setelah penulis menganalisis wacana tersebut, penulis menyimpulkan bahwa ada beberapa keuntungan dari sekolah 3 hari dalam seminggu tersebut, diantaranya:

  1. Moral guru dan siswa menjadi lebih baik. Dalam penerapan tiga hari waktu sekolah dalam seminggu di luar negeri, beberapa siswa merasa diberikan keistimewaan untuk mendapatkan waktu istirahat tambahan dan keluar dari lingkungan yang dapat membuatnya stres. Keluar sekolah satu hari ekstra per-minggu memungkinkan siswa untuk bersantai atau menjadi lebih produktif. Penerapan format tiga hari sekolah dalam seminggu memberikan peluang untuk waktu kerja tambahan di pekerjaan setelah sekolah sehingga mereka bisa terlibat dalam kegiatan sukarela atau mengejar tujuan pendidikan tambahan. Misalnya, seorang siswa yang ingin menjadi atlet tidak akan ketinggalan kelas sebanyak sebelumnya dan memiliki lebih sedikit kegiatan untuk memperbaiki ketika acara pada hari libur yang biasanya mungkin saja dipakai untuk mengerjakan tugas atau kerja kelompok.
  2. Absensi atau kehadiran di kelas akan semakin meningkat. Beberapa perwakilan kabupaten telah menerapkan 3 hari sekolah dalam seminggu dan mereka melaporkan bahwa kehadiran guru dan siswa meningkat. Distrik sekolah luar negeri juga telah melaporkan statistik yang menunjukkan bahwa kehadiran guru dan siswa meningkat sebanyak 20% selama periode dua tahun setelah menerapkan sekolah tiga hari dalam seminggu.
  3. Peningkatan prestasi akademik dan non akademik. Peningkatan prestasi akademik dan non akademik juga telah dikaitkan dengan penerapan tiga hari sekolah dalam seminggu. Dalam satu sistem, dampak hanya dua tahun dari tiga hari sekolah dalam seminggu dapat menyebabkan nilai ujian meningkat. Superintenden Distrik Sekolah luar negeri melaporkan bahwa nilai ujian meningkat setelah sistemnya dijalankan. Dengan sistem ini pula, siswa cenderung memiliki banyak waktu untuk meningkatkan bakat yang dimilikinya sehingga dapat mendorong siswa untuk berprestasi baik secara akademik maupun non akademik.
  4. Dengan sedikitnya waktu di sekolah, para pelajar dapat meluangkan waktunya bersama keluarga serta mengembangkan minat dan bakat mereka. Jadi, para pelajar itu tidak menjadi “robot” yang diharuskan menerima setiap pelajaran yang ada tanpa mempertimbangkan bakat terpendam mereka yang berbeda antara satu dan lainnya.
  5. Meniru gaya pendidikan di Finlandia, salah satu negara yang diakui punya kualitas pendidikan terbaik di dunia. Mirip dengan gagasan Kak Seto, negara itu telah menerapkan yang namanya efektifitas belajar. Gaya pendidikan di Finlandia juga tidak menerapkan PR.
Baca juga: Inilah 4 Program "Merdeka Belajar", Kebijakan Baru Ala Nadiem Makarim

Bisakah sekolah-sekolah di Indonesia mengadopsi sistem serta pola pendidikan homeschooling Kak Seto dan sekolah di Finlandia? Jawabannya, pasti mampu selama ada kemauan, kemampuan, dan persiapan. Tetapi ada beberapa pertimbangan yang mestinya juga dipahami oleh Kak Seto saat ini diantaranya:
  1. Homeschooling Kak Seto didirikan dengan konsep berbeda, tidak seperti sekolah-sekolah formal pada umumnya. Dinamika perjalanannya selama 13 tahun itu juga pasti naik turun. Maksudnya, mengubah budaya di sekolah formal tampaknya akan sedikit sulit karena sudah mengakar lama.
  2. Tidak semua sekolah sanggup bekerja sama dengan lembaga pendidikan luar negeri seperti homeschooling Kak Seto yang bekerja sama dengan Universitas Cambridge, London. Kerja sama tersebut tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jangankan biaya kerja sama, penyediaan fasilitas, sarana, dan prasarana memadai di setiap sekolah di Indonesia saja masih belum merata. Ratusan ribu sekolah di Indonesia kondisi fisiknya tidak sama.
  3. Kak Seto perlu menyadari bahwa pendidikan di Finlandia bisa maju bukan semata-mata terletak pada faktor efektifitas jadwal belajar. Di Finlandia, kondisi dan perlengkapan fisik sekolah sama, makanya di sana tidak ada label sekolah favorit atau unggulan karena memang semuanya unggul. Kelebihan lain dari Finlandia ialah seluruh biaya pendidikan yang gratis. Tidak hanya uang sekolah, pemerintah Finlandia juga menanggung biaya makan siang, transportasi, dan kesehatan para pelajar. Pertanyaannya, sanggupkah pemerintah Indonesia melakukan hal tersebut?
  4. Guru atau tenaga pendidik di Finlandia sangat amat berkualitas, sehingga di sana sangat sulit untuk menjadi seorang guru. Mengapa? Karena seleksinya sangat ketat, mulai dari nilai, integritas, semangat mengajar hingga karya apa yang bisa menunjang pendidikan di Finlandia. Para guru di sana minimal memiliki gelar master dan merupakan 10 besar lulusan terbaik dari universitas asalnya. Oleh karena itu, imbalan atau upah yang diterima guru-guru di sana tidak main-main, bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah per bulan. Jika sistem efektifitas belajar diterapkan di Indonesia seperti di Finlandia, lalu bagaimana mungkin beban guru mengajar hanya sampai 3-4 jam, sementara gaji mestinya dianggap penuh dan menyejahterakan? Apakah pemerintah bersedia menyiapkan dana dalam jumlah besar?
  5. Kak Seto mesti sadar juga bahwa pengembangan bakat dan minat para pelajar, tentu berkaitan juga dengan kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Bagaimana mungkin orang tua yang hidupnya pas-pasan mampu membiayai anaknya untuk ikut les supaya anaknya tidak keluyuran seusai pulang sekolah?
  6. Kak Seto pernah mengatakan bahwa beliau hanya mendapat nilai 4 dalam pelajaran matematika dan itu tidak membunuhnya karena terbukti masih dapat hidup dengan nilai matematika yang kecil. Tetapi perlu ditegaskan bahwa menerima dengan lapang dada nilai matematika di bawah standar angka 4 sangat tidak dianjurkan bagi mereka yang bercita-cita menjadi dokter, arsitek, dan sejenisnya.
Demikianlah artikel kali ini saya tulis. Jika bermanfaat, bantu untuk share artikel ini agar yang lainnya mendapatkan ilmu yang sama. Terima Kasih!

Posting Komentar

0 Komentar