Advertising

Seberapa Pentingkah Ranking di Sekolah?

Sumber: iStock

Pada bulan Juni dan Desember biasanya menjadi waktu dimana momen pembagian raport para siswa terjadi. Ada yang senang dan bahagia bagi mereka yang masuk ranking 5 besar, namun ada juga mereka yang merasa rendah diri karena gagal masuk 10 besar. Adanya kebijakan sekolah untuk tidak lagi mencantumkan ranking di raport seringkali memancing pendapat-pendapat pro dan kontra terkait hal tersebut. Pada intinya, pro dan kontra tersebut terjadi untuk mengarah pada pertanyaan “Perlukah pemberian ranking di sekolah?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut secara mendalam, perlu kita pahami terlebih dahulu hakikat tujuan belajar yang sesungguhnya, karena tujuan pemberian ranking seharusnya sejalan dengan tujuan belajar itu tersendiri.

Pada hakikatnya, tujuan belajar adalah untuk mampu menguasai ilmu atau materi serta keterampilan. Mengukur seberapa jauh tujuan belajar dapat dicapai dengan memonitor data kuantitatif dan kualitatif yang tertera dalam raport atau buku laporan hasil belajar siswa. Data kuantitatif yang terdapat dalam raport merupakan data berupa angka yang mencerminkan seberapa besar nilai prestasi siswa dalam menguasai materi pelajaran yang diajarkan. Sedangkan data kualitatif merupakan data yang menjelaskan bagaimana sikap dan cara kerja siswa tersebut dalam mencapai prestasinya.

Ranking merupakan salah satu bentuk data kuantitatif yang dapat menunjukkan posisi atau urutan prestasi seorang siswa dilihat dari segi prestasi seluruh siswa dalam kelas atau sekolahnya. Semakin tinggi posisi ranking yang diperoleh, idealnya dapat mencerminkan semakin tinggi pula tingkat pencapaian tujuan belajarnya. Atau sebaliknya, semakin rendah posisi ranking berarti semakin rendah pula tingkat pencapaian tujuan belajarnya. Namun pada kenyataannya, posisi ranking yang ada tidak selamanya bisa menunjukkan secara akurat seberapa jauh tingkat pencapaian tujuan belajar siswa. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:
  • Adanya kecurangan siswa dalam memanipulasi nilai raport misalnya ketika dilaksanakan ujian, siswa tersebut menyontek dan mengerjakan soal dengan tidak jujur sehingga nilai yang ia peroleh tidak mencerminkan kemampuan ia yang sebenarnya.
  • Ketidakvalidan alat tes atau ujian, misalnya soal-soal yang diberikan dalam ujian terlalu mudah sehingga tidak bisa mengukur tingkat penguasaan materi pada siswa.
  • Adanya faktor subjektivitas guru terhadap penilaian yang diberikan kepada masing-masing siswa, misalnya “murah” dalam memberikan nilai kepada seorang siswa, namun “mahal” dalam memberikan nilai kepada siswa lainnya.
Apabila hal tersebut terjadi, maka pemberian ranking tidak akan bermanfaat dalam membuat pemetaan tentang prestasi akademik siswa atau pemetaan tentang sejauh mana keberhasilan mencapai tujuan belajar.

Apakah Sistem Ranking Ini Bermanfaat?

Jika kita berbicara evaluasi, pemberian ranking bisa bermanfaat sebagai bahan evaluasi sehingga meningkatkan motivasi belajar untuk mencapai hasil yang lebih baik lagi. Selama ini, sistem kompetisi dalam dunia pendidikan dipercaya akan menciptakan semangat dan etos belajar siswa. Bagi mereka yang memiliki gaya belajar tertentu (menyukai tantangan),  maka adanya sistem ranking dapat memacu semangat belajarnya.

Namun, ada banyak sisi gelap dari pemberian ranking ini. Bagi mereka yang menempati posisi ranking teratas akan rawan merasakan stres jika tiba-tiba nilainya rendah dan tidak mendapat kampus/sekolah bergengsi setelah lulus. Selain itu, posisi ranking teratas yang mereka terima dapat menjadi beban mental karena mereka harus bisa mempertahankan posisi ranking tersebut. Jika tidak, mereka menganggap hal buruk akan terjadi nantinya. Sedangkan bagi siswa yang mendapatkan posisi ranking rendah dapat membuat siswa merasa dirinya bodoh dan menurun semangat belajarnya, bahkan cenderung berpotensi destruktif yang membuat mereka kemudian dicap nakal untuk menutupi rasa rendah diri karena dicap bodoh.

Merasa bodoh tak jarang membuat motivasi belajar siswa semakin menurun. Saat perhatian siswa teralih kepada hal-hal di luar kegiatan belajar formal, tak jarang mereka juga dicap nakal. Ada kasus dimana siswa rela disebut nakal demi menutupi rasa rendah diri karena dicap bodoh. Loh, katanya sistem ranking membuat motivasi belajar semakin meningkat? Tergantung siswa melihat dari sudut pandang mana, sistem ranking ini dapat menjadi pemacu semangat belajar, namun dapat juga menjadi bumerang bagi siswa itu sendiri.

Penekanan pada prestasi akademik semata pada penentuan ranking yang selama ini dilakukan juga seringkali dianggap sebagai sisi negatif dari adanya pemberian ranking. Tentu saja hal ini dianggap dapat mengabaikan prestasi-prestasi non akademik yang dimiliki siswa. Anak yang memiliki ranking tinggi bisa saja sebenarnya memiliki banyak kelemahan dalam bidang non akademis. Atau sebaliknya, seorang siswa yang memiliki ranking rendah, belum tentu ia merupakan seseorang yang tidak memiliki keunggulan atau kelebihan.

Sisi negatif lain dari pemberian ranking adalah adanya kecenderungan untuk memberi label pada seorang siswa. Pada siswa yang memiliki posisi ranking yang baik (misalnya 5 besar), maka secara tidak langsung akan dicap atau dilabeli sebagai siswa yang pintar sehingga bukan tidak mungkin dia akan menjadi seseorang yang sombong atau “overconfidence”. Begitupun sebaliknya, bagi mereka yang berada di posisi ranking rendah akan menjadi seseorang yang rendah diri dan pesimis terhadap kemampuan yang dimilikinya.

Sistem Ranking Menyampaikan Pesan Yang Keliru

Ketika peringkat yang menjadi prioritas utama, maka siswa akan mendapatkan pesan bahwa ia harus mengejar peringkat setinggi-tingginya. Semua daya upayanya pun dikerahkan untuk mencapainya sehingga siswa pun terbiasa belajar hanya menjelang ujian atau upaya lain untuk memastikan nilainya lebih tinggi. Anak pun melupakan bahwa manfaat belajar bukan sekedar ranking, tapi penguasaan kemampuan yang akan menjadi bekalnya dalam menghadapi tantangan hidup.

Selain itu, sistem ranking juga memberikan pesan bahwa bagi siswa yang mendapat peringkat tinggi merupakan siswa “terpintar”. Ada salah kaprah dalam hal ini dimana sistem ranking sebenarnya hanya menunjukkan capaian relatif. Artinya, peringkat seorang siswa tergantung kemampuan rata-rata murid di kelasnya. Apa artinya peringkat satu di kelas yang rata-rata memang kemampuannya rendah? Jadi, jurus paling mudah menempati ranking satu adalah masuk di kelas yang nilai rata-ratanya lebih rendah. Mungkin jadinya bukan menjadi siswa yang “terpintar”, namun hanya menjadi siswa yang lebih mending dari siswa lain saja, hehe..

Posisi Ranking Yang Tinggi Dapat Menjamin Kesuksesan?

Terkait dunia kerja atau karir, tidak ada jaminan siswa yang selalu ranking satu di sekolah akan lancar karirnya. Thomas Alva Edison bahkan dicap bodoh di sekolah, tapi jadi pemilik banyak hak paten yang membangun perusahaan raksasa bernama General Electric. Bahkan si jenius abad ke-20, Albert Einstein pun bukanlah mahasiswa teristimewa di kampusnya. Menurut riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley yang memetakan 100 faktor berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang berdasarkan survey terhadap 733 milioner US, ternyata nilai yang baik (yakni NEM, IPK, dan tentu saja ranking) hanyalah faktor sukses nomor 30.

Berdasarkan teori Multiple Intelligence, dalam dunia pendidikan sejatinya tidak ada siswa yang bodoh. Yang ada adalah siswa yang memiliki kemampuan pada aspek-aspek berbeda satu sama lainnya. Ada siswa yang cerdas di bidang matematika, ada yang berbakat di bidang musik, ada yang ahli dalam bidang seni, ada yang jago dalam bidang olahraga, dan lain sebagainya. Sayang, dunia pendidikan di Indonesia masih berambisi menciptakan orang-orang yang mampu dalam melakukan semua hal.

Menurut Adi Gunawan dalam Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?, “cara paling adil dan baik mengukur prestasi anak adalah dengan membandingkan prestasi saat ini dengan prestasi sebelumnya”. Ya, cara terbaik mengukur prestasi kita adalah dengan membandingkan pencapaian kita sekarang dengan pencapaian kita sebelumnya, bukan dengan membandingkan pencapaian kita dengan orang lain karena setiap orang memiliki takdir yang berbeda.

Sayangnya, selama ini realitas yang ada di masyarakat sering menganggap bahwa kunci dari keberhasilan pendidikan anak di mata masyarakat kita adalah ranking kelas. Akibatnya, orang tua banyak yang menganggap bahwa ranking itulah bukti keberhasilan pada anak-anaknya. Ada beberapa poin dari penulis yang harus digaris bawahi, diantaranya:
  • Saat kita mencintai membaca, kita akan menguasai banyak pengetahuan. Tidak peduli apakah kita memiliki ranking yang tinggi atau rendah.
  • Saat kita dapat berpikir logis, maka kita akan mampu membangun visi dan impian kita. Visi dan impian kita itu tidak dapat dinilai per semester untuk dibandingkan antara siswa yang satu dengan siswa lainnya.
  • Saat kita tahu mana hal yang benar dan hal yang salah, maka kita akan punya integritas. Berapa banyak siswa yang demi mendapat nilai bagus harus dengan cara menyontek?
  • Saat kita mengenal bakat dan kemampuan kita yang sesungguhnya, maka kita akan mampu menghasilkan karya dan dedikasi yang terbaik.
  • Saat kita memiliki semangat juang yang tinggi, maka sejatinya itulah kunci kesuksesan kehidupan.
Itu semua tidak bisa diranking. Jika kita fokus pada peringkat, maka kita akan kehilangan nilai-nilai yang hakiki dalam pendidikan. Jika kita harus kompromi dengan sistem pendidikan sekolah, maka “kompromi” kita adalah berusaha untuk selalu naik kelas. Tingkatkan bakat dan kemampuan yang kita miliki, tidak perlu menguasai segala aspek.

Tapi, seperti tertulis dalam buku Cooperative Learning, sistem ranking sudah jadi lingkaran setan yang membuat siswa menjadi korban. Mereka melewati proses pendidikan seperti seekor keledai yang letih karena ditunggangi seseorang berbadan gemuk. Keledai ini dipaksa berjalan dengan iming-iming sebuah wortel yang digantung persis di depan mulutnya, tapi tidak pernah bisa menggapainya.

Saya ingin menutup artikel ini dengan sebuah pernyataan yang sangat menginspirasi dari Tom Bodett, “in school, we are taught a lesson and then given a test. In life, we are given a test that teaches us a lesson”. (Di sekolah, kita diajarkan sebuah pelajaran dan kemudian diberikan ujian. Dalam hidup, kita diberikan sebuah ujian yang mengajarkan kita sebuah pelajaran).

Semoga artikel ini bermanfaat. Share artikel ini untuk berbagi ilmu dengan yang lainnya! Terima kasih!

Posting Komentar

2 Komentar