Advertising

Haruskah Sistem PR di Sekolah Dihapuskan?

PR dapat menjadi pembatas aktivitas siswa (Sumber: SatelitPost)

Menurut Cooper, Pekerjaan Rumah (PR) merupakan tugas yang diberikan oleh guru yang dimaksudkan untuk dikerjakan di luar jam sekolah. PR juga dapat dikatakan menjadi suatu strategi pembelajaran yang disebabkan karena lebih banyak faktor yang mempengaruhi di dalam proses pembelajaran. Pemberian PR dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktekkan dan belajar materi pelajaran tanpa batasan waktu dan tempat.

Ada perdebatan besar di kalangan umum mengenai keberadaan Pekerjaan Rumah (PR) di sekolah. Apakah adanya PR banyak memberikan manfaat bagi siswa? Ada yang setuju PR membantu siswa menguasai pembelajaran, namun ada yang tidak setuju karena dianggap hanya menjadi beban. Namun nampaknya hampir semua orang setuju bahwa PR bisa menghabiskan banyak waktu siswa. Pendidikan di Indonesia terutama di kalangan SMP dan SMA mempunyai jam belajar cukup lama, yaitu sekitar 35-40 jam per minggu atau 7-8 jam per harinya. Dengan banyaknya jam belajar, terkadang membuat pelajar sulit untuk beristirahat setelah pulang sekolah karena harus lanjut mengerjakan banyak PR.

Para pakar pendidikan rata-rata merekomendasikan satu jam untuk sekolah dasar dan dua jam untuk sekolah menengah dalam mengerjakan PR di malam hari. Robert H. Tai, Associate Professor of Education, University of Virginia melalui The Conversation memperkirakan jam malam dihabiskan banyak siswa sekolah menengah bertambah sekitar 180 jam selama satu tahun ajaran. Kelompok riset Robert juga menunjukkan PR lebih banyak menghabiskan waktu siswa untuk mengerjakannya dan hanya menyisakan sedikit waktu untuk bermain dan beristirahat setelah hari yang melelahkan.

Apa Tujuan Adanya Pemberian PR?

Secara garis besar, tujuan pemberian PR dapat dikategorikan menjadi tiga menurut Van Voorhis, diantaranya:
  1. Intruksional yaitu sebagai latihan, persiapan untuk pertemuan berikutnya, peningkatan partisipasi dalam belajar, pengembangan pribadi, dan sebagainya.
  2. Komunikatif yaitu PR sebagai media komunikasi antara para siswa, keluarga dan guru.
  3. Politis. PR dapat berfungsi secara politis jika hal itu dilakukan untuk memenuhi suatu kebijakan atau kepuasaan masyarakat. Di samping itu, PR dapat dikategorikan sebagai bernuansa politis jika PR dimaksudkan sebagai “hukuman”. Walaupun para pendidik sudah lama menolak pemberian PR yang dimaksudkan sebagai hukuman.

Pemberian PR oleh guru dilatarbelakangi bahwa tidak semua siswa memiliki kemampuan yang sama dalam menangkap atau memahami pelajaran yang telah disampaikan oleh guru di kelas, sehingga siswa memerlukan kesempatan lebih banyak. Oleh karena itu, melalui mekanisme pemberian PR, siswa akan dapat mengatur waktunya sendiri untuk berlatih mengerjakan berbagai soal atau membaca ulang serta memperdalam materi baik secara mandiri atau dengan bantuan orang tua sehingga penguasaan terhadap materi pelajaran menjadi semakin sempurna.

Dampak positif PR bagi siswa
  1. Siswa belajar untuk dapat membagi waktu secara efektif antara waktu belajar dan bermain. Adanya PR dapat menjadi pemicu bagi siswa untuk bertanggung jawab dalam mengatur waktunya dalam membagi waktu antara waktu bermain dan waktu belajar. Dengan demikian siswa akan menyadari betapa berharganya waktu dan tidak akan menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang sia-sia.
  2. PR dapat menjadi bahan review pelajaran di sekolah. Siswa belajar mengingat apa yang sebelumnya ia pelajari di sekolah melalui PR yang diberikan guru, sehingga daya memori siswa akan materi tersebut menjadi kuat.
  3. Mengecek pemahaman siswa terhadap apa yang dipelajari siswa di sekolah. PR dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi siswa untuk mengetahui kemampuannya dalam memahami apa yang sebelumnya ia pelajari di sekolah
  4. PR sebagai wadah untuk mengeksplore pengetahuan siswa. Mengerjakan PR dapat memperluas pengetahuan siswa untuk menggali lebih dalam apa yang ia pelajari sebelumnya. Terkadang apa yang ada di dalam tugas PR mereka adalah materi pengayaan yang pencariannya membutuhkan jawaban di luar apa yang ada dalam buku mereka, namun masih masih memiliki keterikatan dengan materi.
  5. Pematangan konsep untuk berpindah ke materi berikutnya. Pematangan konsep yang diperoleh melalui tugas PR dapat memudahkan siswa untuk memahami materi lanjutan yang tentunya masih ada hubungannya dengan materi sebelumnya.
  6. Memperkuat ingatan siswa terhadap materi yang disampaikan. PR memungkinkan untuk terjadinya penguatan melalui latihan, penerapan, transfer, dan pengayaan dari apa yang telah dipelajari di kelas sehingga memungkinkan terjadinya pengintegrasian berbagai keterampilan yang terdapat di dalam kurikulum. Pengintegrasian pengetahuan dan penerapan dalam memecahkan berbagai masalah membiasakan siswa untuk terbiasa melakukan pemecahan masalah. Dari alur pikir ini berarti PR membimbing siswa untuk mampu berpikir baik dalam tataran yang rendah sampai yang tertinggi melalui penggunaan berbagai pengetahuan yang telah diperoleh untuk diolah secara mandiri.
  7. Mengurangi penggunaan gadget pada siswa. Adanya tugas PR di luar sekolah membuat siswa dibuat sibuk untuk mengerjakan PR sehingga sedikit waktu untuk bermain gadget.

Dampak negatif PR bagi siswa
  1. Terlalu banyak PR dapat menyebabkan siswa menjadi stres. Hal tersebut membuat siswa merasa tertekan ditambah merasa terkejar waktu untuk mengumpulkan tugas itu. Sebuah studi juga menemukan bahwa siswa yang menghabiskan waktu 30 menit atau lebih untuk menyelesaikan PR setiap malam memiliki tingkat stres yang tinggi. Galloway, Conner & Pope (2013) menyurvei 4.317 siswa sekolah menengah dari sepuluh sekolah unggulan. Mereka menemukan bahwa siswa menghabiskan lebih dari 3 jam untuk mengerjakan PR setiap hari. Akibatnya, 72% dari siswa mengalami stres karena PR, dan 82% melaporkan gejala gangguan fisik.
  2. Terlalu lama dalam mengerjakan PR dapat memberatkan siswa dan berakibat buruk bagi kesehatan siswa. Ada sebagian siswa yang sering menunda makan demi menyelesaikan tugas, ditambah lagi kurangnya waktu tidur sehingga daya tahan tubuh melemah dan mudah terserang penyakit. Cheung & Leung-Ngai (1992) menyurvei 1.983 siswa di Hong Kong, dan menemukan bahwa PR menyebabkan tidak hanya menambah stres dan kecemasan, tetapi juga gejala gangguan fisik, seperti sakit kepala dan sakit perut.
  3. Waktu untuk bersama keluarga dan teman-teman terkuras. Ketika para siswa memiliki banyak tugas PR, waktu interaksi sosial mereka akan berkurang. Mereka terlalu fokus untuk menyelesaikan tugas sehingga kurang berinteraksi dengan keluarga atau teman bahkan tidak menemukan hobi yang mereka sukai. Dalam studi MetLife, siswa sekolah menengah melaporkan menghabiskan lebih banyak waktu menyelesaikan PR daripada melakukan tugas rumah. Kohn (2006) berpendapat bahwa PR dapat menciptakan konflik keluarga dan mengurangi kualitas hidup siswa.
  4. Terlalu banyak PR dan singkatnya waktu yang diberikan untuk mengumpulkan PR tersebut dapat memunculkan beban psikis pada siswa. Siswa akan merasa tertekan sehingga dapat menimbulkan perasaan “alergi” terhadap pelajaran. Tentunya ini akan membuat mereka malas ke sekolah atau tidak menyukai pelajaran tertentu.
  5. Belum adanya penelitian yang menemukan korelasi positif antara pemberian PR dengan prestasi pada nilai ulangan siswa.
  6. Adanya PR tidak menghambat siswa untuk bermain gadget. Lho, bukannya PR itu bisa mengurangi penggunaan gadget pada siswa? Bagi sebagian siswa, adanya PR justru tidak mengurangi waktu bermain gadget sama sekali. Kenapa? Karena ada sebagian siswa yang mengerjakan PR dengan menyontek jawaban ke internet agar tugas mereka cepat selesai. Jelas hal ini tidak sejalan dengan tujuan PR itu sendiri, yakni untuk melatih siswa belajar secara mandiri.
  7. Membatasi waktu istirahat. Dengan durasi belajar di sekolah yang cukup lama, siswa pada sekolah tingkat menengah akan pulang pada sore hari. Pada malam hari, mereka akan menghabiskan waktu untuk mengerjakan PR sehingga waktu istirahat mereka sangat terbatas.


Haruskah PR Dihapuskan?

Memang, ada beberapa pihak yang mengajukan alasan penolakan penggunaan PR ini, seperti kohn (2006: 10) meyatakan “tidak ada hubungan linear atau lengkung yang konsisten antara jumlah waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan rumah dan tingkat prestasi akademik anak”. Di samping itu, para guru yang memberikan PR masih ada yang melakukannya tidak dengan semestinya sehingga menimbulkan keraguan pada berbagai pihak. Walaupun demikian, masih lebih banyak pihak yang mendukung dan menyetujui dipergunakannya pekerjaan rumah sebagai sebuah mekanisme untuk pembelajaran siswa jika memang penyelenggarannya secara benar. Bahkan melalui pemberian PR ini, kemitraan antara sekolah dan orang tua dapat dibangun sehingga mereka memberdayakan penyelenggaraan pendidikan.

Menurut saya pribadi, PR memiliki manfaat yang sangat mulia jika diterapkan sesuai dengan semestinya. Jika pemberian PR sesuai dengan porsinya serta kesempatan waktu pengumpulannya yang cukup, adanya PR ini dapat memberikan banyak benefit baik bagi siswa maupun guru. Sebaliknya, PR dapat menjadi beban dan sumber dampak negatif lainnya jika dilakukan secara sembarangan. Maaf, masih ada beberapa guru yang selalu memberikan PR hanya dengan alasan agar muridnya memiliki tugas di rumah. Bayangkan jika setiap guru memiliki pandangan seperti itu! Betapa menumpuknya PR yang dimiliki siswa ketika pulang ke rumah.

Perlu adanya pemahaman mengenai fungsi PR itu sendiri. Kebanyakan siswa masih memiliki pandangan negatif terhadap pemberian PR dari guru. Jika adanya PR dipandang sebagai hal positif, PR dapat memberikan banyak manfaat bagi siswa itu sendiri maupun guru. Oleh karena itu, guru juga seharusnya memberikan pemahaman mengenai tujuan dan fungsi pemberian PR agar siswa tidak memandang PR sebagai hal yang percuma. Dengan demikian, menurut saya, PR tidak perlu dihapuskan selama pelaksanannya sesuai dengan sebagaimana mestinya.

Baca: Seberapa Pentingkah Ranking di Sekolah? 

Hasil penelitian memberikan beberapa catatan untuk pelaksanaan pemberian pekerjaan rumah yang baik dari guru (Wolfe, 2003) antara lain:
  • Pekerjaan rumah akan efektif jika dirancang dengan baik, artinya tugas tersebut memang dirancang dalam proses pembelajarannya sehingga memungkinkan siswa untuk menyadari akan tugasnya terkait dengan materi tersebut. Pekerjaan rumah yang telah dirancang sebelumnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami terlebih dahulu maksud dan tujuannya atas penjelasannya dari guru. Pemahaman tentang kejelasan tugas pekerjaan rumah beserta dengan rasionalnya menjadikan siswa semakin mantap dan siap mengerjakan.
  • Pekerjaan rumah memang telah direncanakan/dipersiapkan untuk dikerjakan di luar jam pelajaran sebagai bentuk latihan lebih luas atau memperdalam suatu materi. Kesadaran untuk melaksanakan latihan dan belajar secara teratur dapat dilakukan dengan senantiasa membarengi setiap materi pelajaran dengan tugas-tugas yang harus diberikan.
  • Melalui persiapan yang matang, guru mampu menjelaskan, memberikan contoh, mengantisipasi potensi-potensi kesulitan sehingga pekerjaan rumah bukanlah dipersepsi sebagai beban namun sebagai tantangan dan tugas yang harus diselesaikan.
  • Pekerjaan rumah diberikan dalam bentuk yang sesederhana mungkin untuk mendorong siswa belajar, merasa kompeten, dan sebagainya. Pemberian materi secara bertahap dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang mudah menuju ke yang lebih sulit mendorong siswa untuk bersedia mengerjakan. 
  • Tidak merancang pekerjaan rumah sebagai hukuman. Dalam bentuk paling halus misalnya, PR diberikan karena guru sakit hati atau secara sengaja memberikan suatu PR yang sangat sulit atau tidak masuk akal, sehingga PR tersebut lebih sebagai bentuk penyaluran kekesalan dari guru.
  • Guru konsekuen dan bertanggung jawab atas PR yang diberikan, maksudnya adalah tidak sekedar memberikan tugas, namun juga memonitor dan mengevaluasi hasil, serta melaporkan hasil kepada siswa.
  • Lembaga The National Education Association merekomendasikan total 10 menit dari waktu mereka di malam hari untuk mengerjakan PR-nya. Adapun sudah melebihi waktu tersebut, adalah berlebihan. Poin utamanya adalah seorang anak akan bisa memahami sebuah konsep lebih baik jika dia bisa mengerjakan 5 persoalan dalam waktu yang lenggang dibanding harus berjuang mengerjakan 50 soal dengan waktu yang sempit. 

Apa yang dipaparkan di atas bukan merupakan argumen untuk mengatakan bahwa PR tidak bermanfaat. Data-data tersebut menunjukkan fakta (di negara lain) bahwa PR masih menjadi polemik seperti halnya polemik di Indonesia yang semakin mencuat. Tetapi, seperti yang saya katakan di atas, PR dapat menjadi bermanfaat apabila diselenggarakan dengan sebagaimana mestinya. Tetapi dapat menjadi bumerang apabila dilaksanakan secara sembarangan.

Demikian untuk artikel kali ini. Jika artikel ini bermanfaat, share untuk berbagi ilmu kepada yang lainnya! Terima kasih.

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Yh klo ane jujur sama sekali gk setuju klo ada PR... Bahkan sy sendiri gk mau mengerjakan PR, dirumahnya y Kita sibukin dengan hal lainnya :v ngeblog misalnya hhhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pendapat yang Bagus. 👍
      Tetapi seandainya PR diberikan sesuai dgn semestinya, misalkan selesai dikerjakan dgn waktu 10-15 menit, itu bisa bermanfaat untuk kita. Namun harus diakui bahwa yang saya rasakan juga kebanyakan PR diberikan secara sembarangan sehingga hanya menjadi beban. Di beberapa daerah sudah tidak diberlakukan PR, seperti Purwakarta. Boleh dicoba sekolah di sana gan, wkwkwk :v

      Hapus