Advertising

Bahaya Lisan Menurut Pandangan Islam!

Ilustrasi: Republika 

Lisan merupakan anugerah yang diberikan Allah SWT kepada umat manusia. Walaupun lisan membawa manfaat dan memudahkan kita dalam berkomunikasi, keberadaannya mesti kita jaga sejalan dengan prinsip kehati-hatian. Lisan dapat mencerminkan kualitas keimanan seseorang. Lisan seseorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. sebaliknya, orang yang "bodoh", hatinya berada di bawah kendali lisannya. Selalu menjaga lisan dapat membuat hati kita bersih, mengangkat derajat kita dalam pandangan Allah, memberikan ketenangan hidup serta menghindarkan kita dari bahaya lisan.

Lisan dapat kita ibaratkan seperti binatang buas. Ketika kita mampu mengikatnya dan menjinakkannya, maka dia akan menjadi penjaga bagi kita. Namun, ketika kita melepas dan membuatnya liar, maka dia akan menerkam kita. Oleh karena itu, hendaklah kita berkata sekadarnya dan berhati-hati terhadapnya. Seorang ahli hikmah mengatakan, berbicara tanpa dilandasi pemikiran yang matang merupakan sebuah kesalahan yang sangat fatal, mengapa demikian? Karena faktanya tidak sedikit orang yang hancur karena tidak mampu menjaga ucapannya sendiri.

Anda pasti pernah mendengar pepatah "lidah lebih tajam daripada pedang". Begitu pentingnya menjaga lisan bagi seorang muslim sehingga lisan sering dikaitkan dengan iman yang lurus. Lisan dapat menembus apapun yang tak bisa ditembus dengan benda tajam manapun. Daya bunuh dari kata-kata yang keluar dari lisan kita dapat lebih mematikan daripada benda tajam sekalipun. Maka dari itu, berhati-hatilah ketika kita mengeluarkan ucapan dari lisan kita. Apa yang telah kita ucapkan tidak bisa kita tarik kembali seperti layaknya pesan WA. Jadi, berhati-hatilah ketika berucap, jangan sampai menyesal karena ucapan buruk yang terlontar dari lisan kita. Lisan adalah racun pertama hati yang menyebabkan manusia jauh dari cahaya Ilahi.

Pepatah lainnya mengatakan "terpelesetnya kaki jauh lebih baik dibanding terpelesetnya lisan". Memang benar demikian, mengobati luka yang timbul dari lisan tidaklah mudah untuk diobati dibandingkan dengan organ tubuh lainnya dimana obatnya banyak terdapat di apotek. Meski terkadang secara jasmani telah memberi maaf, namun terkadang memaafkan bukan berarti melupakan apa yang telah terjadi.

Sebagian orang sangatlah mudah dan sudah terbiasa dalam mengucapkan kata-kata kotor, kata-kata yang buruk, bahkan kata-kata yang dapat menyakitkan hati orang yang mendengarnya. Ucapan yang buruk itu seolah-olah telah menjadi karakternya sehingga mudah terucap namun sulit dihentikan. Mengucapkan kata-kata yang buruk dapat menimbulkan kecanduan seperti rokok bagi mereka yang sudah biasa mengucapkannya. Sangat sulit dihentikan, namun bukan mustahil untuk dihilangkan. Ucapan buruk yang keluar dari lisan mereka semakin menjadi ketika mereka berselisih dengan temannya atau terlibat dalam perdebatan serta pertengkaran. Hal itu tidak berlaku bagi mereka yang memiliki kualitas keimanan yang tinggi. Mereka melakukan segala ibadah dengan benar sehingga sulit mengeluarkan kata-kata kotor meskipun disengaja. Oleh karena itu, jika seseorang tidak dapat berhenti mengucapkan kata-kata yang buruk, bisa jadi ibadah yang dilakukannya ada yang tidak benar sehingga ibadah yang dilakukannya tidak berpengaruh apa-apa terhadap kehidupannya.

Lisan dapat membuat orang bahagia sekaligus menyakitinya. Lisan dapat membuat orang menangis dan disaat yang sama dapat membuat orang tersenyum. Tak jarang perdamaian dan permusuhan yang tumbuh di sekitar kita disebabkan oleh perbuatan lisan kita. Berbicara masalah lisan, tidak akan terlepas dari hati sebagai objek dari lisan karena apa yang kita ucapkan dengan lisan kita akan berpengaruh terhadap hati seseorang. Dengan lisan juga potensi penyebaran hoaks akan semakin besar, padahal dalam islam maupun dalam konteks kemanusiaan, menyebarkan berita bohong merupakan sebuah perbuatan yang sangat dilarang karena menyesatkan.

Allah Ta’ala berfirman,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

“Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’ [4]: 148)

Maksudnya, Allah Ta’ala tidak menyukai perkataan yang jelek, perkataan yang menyakiti (orang lain), kecuali bagi orang yang dizalimi. Bagi orang yang dizalimi, diperbolehkan untuk mendoakan jelek orang yang menzalimi, atau menyebutkan keburukan orang zalim tersebut. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat tersebut dengan berkata, “Maksudnya, Allah tidak menyukai seseorang berdoa jelek untuk orang lain, kecuali jika dia dizalimi.”


Jangan Ganggu Orang Lain dengan Lisanmu

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah! Siapakah kaum muslimin yang paling baik?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ، وَيَدِهِ

Seorang muslim yang tidak mengganggu orang lain dengan lisan atau tangannya.” (HR. Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)

Mengganggu dengan lisan, bisa jadi dengan perkataan yang menyakitkan, atau yang lainnya (misalnya, mengejek dengan menjulurkan lidah). Dan disebutkan “tangan” dalam hadits di atas karena mayoritas gangguan kepada orang lain itu disebabkan oleh tangan. Sehingga hal ini tidak menihilkan gangguan melalui anggota tubuh yang lain, misalnya kaki atau yang lainnya.

Dosa Akibat Lisan Berkata Buruk

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga ditanya tentang (dosa) yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam neraka. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الفَمُ وَالفَرْجُ

“(Dosa) lidah dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Dosa yang disebabkan oleh lisan dan dosa yang disebabkan oleh kemaluan (yaitu berzina) adalah dosa yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam neraka. Karena sebab lisan inilah seseorang bisa terjerumus dalam banyak masalah. Sebagaimana yang bisa kita saksikan di jaman ini, betapa mudahnya seseorang menulis status di media sosial, berkomentar sana-sini, setelah itu dia pun mendapatkan banyak masalah karena status dan komentarnya.

Berkatalah Yang Baik Atau Diam

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Ibnu Hajar menjelaskan, “Ini adalah sebuah ucapan ringkas yang padat makna; semua perkataan bisa berupa kebaikan, keburukan, atau salah satu di antara keduanya. Perkataan baik (boleh jadi) tergolong perkataan yang wajib atau sunnah untuk diucapkan. Karenanya, perkataan itu boleh diungkapkan sesuai dengan isinya. Segala perkataan yang berorientasi kepadanya (kepada hal wajib atau sunnah) termasuk dalam kategori perkataan baik. (Perkataan) yang tidak termasuk dalam kategori tersebut berarti tergolong perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan. Oleh karena itu, orang yang terseret masuk dalam lubangnya (perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan) hendaklah diam.” (lihat Al-Fath, 10:446)

Jadi sangatlah jelas, kita hanya boleh berkata yang baik-baik. Jika tidak mampu, maka lebih baik diam atau belajar terlebih dahulu sampai tahu bahwa yang ingin kita katakan adalah benar dan baik. Pilihannya ada dua, berkata yang baik atau diam. Tidak ada pilihan ketiga.

Penyakit Lisan Yang Harus Diwaspadai

Abdullah Bin Raadhy Al-Ma`idiy Al-Syamry dalam makalahnya yang berjudul Aafat Al-Lisaan di situs www.saaid.net menyebutkan beberapa penyakit lisan yang harus diwaspadai diantaranya:
  1. Perkataan syirik kepada Allah.
  2. Mengucapkan perkataan terhadap Allah tanpa didasari oleh ilmu.
  3. Berdusta/berbohong.
  4. Berghibah/gosip.
  5. Mengucapkan perkataan yang batil atau diam dari kebenaran.
  6. Memberikan kesaksian palsu.
  7. Bersumpah selain Allah, seperti bersumpah dengan nama ayah, bersumpah dengan amanah, dll.
  8. Mencaci maki, menghina, dan mengolok-olok orang beriman.
  9. Melaknat atau mengutuk orang lain tanpa dasar ilmu.

Keutamaan Menjaga Lisan

Berikut ini beberapa keutamaan menjaga lisan dalam islam yang harus kita ketahui:
  1. Memiliki kedudukan tinggi sebagai seorang muslim.
  2. Allah menjamin surga bagi orang-orang yang mampu menjaga lisannya.
  3. Dijauhkan dari panasnya neraka jahannam.
  4. Meningkatkan keimanan seorang muslim.
  5. Sebagai amalan sedekah yang mendatangkan pahala melimpah.
  6. Menghindari sifat keras hati.
  7. Menyelamatkan diri dari segala dosa yang bersumber dari lisan.
  8. Allah mengangkat derajat seseorang yang menjaga lisannya.
Demikian artikel kali ini. Semoga bermanfaat! Share artikel ini untuk berbagi ilmu kepada yang lainnya. Terima kasih.


Posting Komentar

0 Komentar