Advertising

Cara Mengatasi Stres Sekolah pada Peserta Didik

Stres merupakan gangguan mental yang dihadapi seseorang akibat adanya tekanan. Stres tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi sebagian besar remaja sekarang sudah mengalami stres ketika duduk di bangku sekolah. Survei terbaru yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA) menunjukkan remaja sekarang lebih mudah mengalami stres dibanding orang dewasa. Bahkan, penelitian yang dilakukan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Wuryadi, menyatakan pelajar pada jenjang Sekolah Dasar (SD) pun sudah mengalami stres karena belajar yaitu mencapai 80%, terutama mereka yang berada di sekolah unggulan.

Stres belajar diartikan sebagai tekanan-tekanan yang dihadapi anak berkaitan dengan sekolah, dipersepsikan secara negatif, dan berdampak pada kesehatan fisik, psikis, dan performansi belajarnya (Campbell & Svenson, 1992). Ada beberapa gejala yang dapat menandakan bahwa seseorang sedang mengalami stres. Secara umum, gejala stres tersebut antara lain susah berkonsentrasi terhadap sesuatu, insomnia (susah tidur), sakit kepala, gangguan suasana hati, mudah menangis, mudah lelah, mudah putus asa, mudah marah, mudah lupa dan tidak mempunyai nafsu makan. Apakah kalian mengalami hal-hal tersebut? Jika iya, maka sangatlah tepat kalian untuk membaca artikel ini!

Faktor-Faktor Penyebab Stres pada Pelajar

Banyak faktor yang dapat menimbulkan stres pada pelajar. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres ini biasa disebut “Stressor”. Sebelum kita mengatasi stres dalam diri kita, sudah seharusnya kita mengetahui terlebih dahulu faktor-faktor penyebab stres. Berikut penjelasannya.

  • Tekanan dari Orang Tua

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya untuk mendapatkan yang terbaik bagi masa depannya. Masa depan yang baik ini dapat diraih dengan berprestasi di sekolah. Oleh karena itu, kebanyakan orang tua akan membebani anak-anaknya untuk mendapatkan nilai besar di sekolahnya. Bahkan, tidak jarang orang tua yang memasukkan anaknya ke dalam kursus pelajaran untuk membantu anaknya berprestasi di sekolah. Namun, tidak semua anak mampu menanggung beban tersebut. Hal ini hanya dapat membuat anak stres sehingga memengaruhi kesehatannya, waktu istirahatnya, dan perkembangannya.

Kebanyakan orang tua akan memasukkan anaknya ke dalam kursus pelajaran yang tidak dapat dikuasai oleh anaknya. Padahal, anak tersebut mempunyai bakat di bidang lain. Sebagai contoh, ada seorang anak yang "bodoh" dalam matematika tetapi sangat jago bermain piano. Orang tuanya memasukkan dia ke dalam kursus matematika yang jelas-jelas tidak dapat dikuasai oleh anaknya. Seharusnya, ia dimasukkan ke dalam kursus piano supaya dapat mengembangkan bakatnya bukan dimasukkan ke dalam kursus matematika yang tidak dapat dikuasainya. Hal ini secara tidak langsung mendorong si anak untuk menguasai seluruh pelajaran yang ada di sekolah. Tekanan seperti inilah yang dapat menimbulkan stres pada pelajar.
Ilustrasi LucuPada sore hari, seorang siswa baru saja pulang sekolah. Ketika sampai di rumah, dia langsung ganti baju, makan, dan berbaring di atas kasur untuk beristirahat. Lalu ibunya menghampiri dia,Ibunya: "Kamu tuh ya, bukannya belajar malah malas-malasan di atas kasur. Gimana kamu bisa sukses kalo kerjaan kamu cuma tiduran."Anaknya hanya tersenyum sambil berkata dalam hati, "Ibu kira aku di sekolah dari pagi sampai sore itu ngapain? Panen jagung?" 

  • Tekanan dari Guru

Hampir sama dengan orang tua, guru ingin siswanya mendapatkan nilai yang terbaik. Beberapa guru akan mendorong siswanya untuk berprestasi dalam pelajaran yang diajarkannya. Satu hal yang perlu diingat, "tidak semua pelajaran dapat dikuasai oleh siswa".

Logikanya seperti ini, setiap pelajaran pada sekolah menengah diajarkan oleh guru yang berbeda-beda. Sebagian besar guru akan memberikan tekanan kepada siswanya agar dapat menguasai pelajaran yang diajarkannya. Ini artinya, siswa secara tidak langsung diberi tekanan agar dapat menguasai seluruh pelajaran. Hal inilah yang dapat menimbulkan stres pada pelajar. Masalahnya, kenapa siswa harus menguasai seluruh pelajaran? Apakah guru juga dapat menguasai seluruh pelajaran? Jika iya, kenapa setiap pelajaran di sekolah diajarkan oleh guru yang berbeda-beda, tidak satu guru saja?

Selain itu, tugas yang diberikan oleh guru juga dapat memicu siswa menjadi stres. Perlu diingat bahwa siswa di sekolah menengah mempelajari lebih dari 10 mata pelajaran. Jika guru dari setiap mata pelajaran memberikan tugas kepada siswanya, maka siswa akan mempunyai tugas yang menumpuk. Hal ini sangatlah sulit untuk diselesaikan bagi sebagian besar siswa. Belum lagi siswa harus pulang sore. Ketika mereka berada di rumah, bukannya istirahat malah harus menyelesaikan banyak tugas yang dibebankan guru. Mungkin hal ini merupakan faktor utama siswa sekolah banyak mengalami stres. Tetapi bagi sebagian siswa, tugas bukanlah beban bagi mereka. Justru mereka berpandangan tugas itu lah yang dapat mengasah kemampuan mereka.

  • Tekanan dari Sesama Siswa

Semangat kompetisi akan semakin memanas ketika menjelang ujian di sekolah. Setiap siswa akan berlomba-lomba untuk menunjukkan prestasi terbaiknya. Biasanya, segala cara akan dilakukan siswa untuk meraih nilai tertinggi termasuk dengan cara menyontek ketika ujian berlangsung. Tetapi, ketika mereka gagal dalam bersaing dengan temannya akan memicu mereka menjadi stres karena gengsi.

  • Tekanan dari Diri Sendiri

Hal ini lebih banyak dialami oleh siswa berprestasi. Mereka akan cenderung menjadi orang yang perfeksionis. Sehingga ketika mereka gagal dalam sesuatu, entah itu nyata atau masih belum terjadi dapat membuat mereka stres bahkan depresi. Mereka sudah terbiasa mendapatkan nilai tinggi dan ketika mereka mendapatkan nilai rendah, mereka akan stres, putus asa, dan pesimis terhadap hal lainnya. Perlu diingat, sukses itu bukan berarti tidak pernah gagal. Orang sukses adalah mereka yang belajar dari kegagalannya. Jadi tidak masalah jika kita mengalami kegagalan, asalkan kita belajar dari kegagalan itu untuk menghadapi hal lain yang lebih sulit.

Stres di Sekolah dalam Perspektif Islam

Dalam konsep Islam, kondisi stres juga dijelaskan secara tersirat bahwa pada dasarnya manusia bersifat keluh kesah ketika mendapatkan suatu kesusahan, musibah maupun kesulitan dan cenderung individualis atau tidak mau berbagi kebaikan dengan sesamanya. Namun, itu semua dapat diminimalisir dengan melakukan ibadah dan bertakwa kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ma'arij ayat 19-23 yang artinya,

"Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh (19). Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah (20). Dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir (21). Kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat (22), mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya (23).

Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia mempunyai sifat berkeluh kesah dalam menghadapi kesulitan dalam kehidupan. Dan juga bakhil terhadap apa yang dimilikinya. Namun, sifat tersebut tidak akan muncul pada diri seseorang yang beriman dan orang-orang yang mengerjakan shalat. Seseorang yang kuat imannya, dia akan tegar dan sabar dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan hidup. Sedangkan bagi mereka yang lemah imannya akan mudah mengalami tertekan jiwanya atau stres. Orang seperti ini akan mudah kehilangan kepercayaan diri dan selalu suudzan kepada Allah dan orang lain. 


Nilai Akademis Adalah Segalanya?

Ada sebagian orang yang berpandangan bahwa nilai akademis merupakan hal yang dapat menjamin keberhasilan dan kesuksesan hidup seseorang kelak. Jika kalian termasuk dari mereka, maka ubahlah sudut pandangmu mulai sekarang. Pada kenyataannya, keberhasilan hidup seseorang tidak bisa ditentukan dari tinggi atau rendahnya nilai akademik. Keberhasilan hidup dapat dilihat dari karakter apa yang ada dalam benak kita.

Banyak orang tua yang beranggapan bahwa dengan menyekolahkan anaknya ke sekolah yang ternama dan memiliki fasilitas yang bagus dapat menjadikan anaknya sukses di masa mendatang. Memang benar fasilitas sekolah yang baik dapat mendukung proses pembelajaran anak, tetapi jangan hanya terpaku dan menilai sebuah sekolah dari kurikulum dan fasilitasnya saja. Perlu juga dipertimbangkan faktor pengembangan karakter yang diajarkan dalam sekolah tersebut.

Jangan fokus mengejar nilai yang tinggi. Bagaimanapun juga, nilai hanyalah nilai yang merupakan suatu tolak ukur hasil pembelajaran kita. Sederhana saja, jika mendapat nilai tinggi kita pertahankan, jika mendapat nilai rendah kita tingkatkan usaha kita. Jadi, jangan khawatir ketika mendapatkan nilai rendah karena nilai bukan patokan kita akan masuk surga atau neraka.

Dampak Stres di Sekolah

Stres di sekolah ini memberikan dampak terhadap kehidupan pribadi siswa baik secara fisik, psikologis, psikososial atau tingkah laku, bahkan penyesuaian akademik. Femian & Cross (Desmita, 2012) menyampaikan bahwa siswa yang mengalami stres di sekolah dalam kategori tinggi dimungkinkan akan berani menentang dan berbicara di belakang guru, sering membuat keributan di kelas, dan sering merasa pusing serta sakit perut. Selain itu, diperkirakan 10% sampai 30% remaja yang sangat cemas di sekolah sangatlah mengganggu prestasi akademiknya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tuntutan yang ada di sekolah menjadikan sumber stres tersendiri bagi siswa sehingga berdampak pada turunnya prestasi di sekolah, menjadikan siswa lebih agresif, tingkah laku maladaptif, dan berbagai masalah dalam segi psikososial lainnya.

Pendapat lain menyebutkan bahwa stres di sekolah ini tidak selamanya memberikan dampak negatif, melainkan juga dapat bermakna lebih positif apabila tuntutan yang ada dijadikan sebagai tantangan tersendiri untuk mengatasinya. Adapun stres di sekolah yang di respon dengan positif (eustress) justru dapat dijadikan untuk meningkatkan kualitas tinggi dan prestasi belajar.


Cara Mengatasi Problem Stres Sekolah

  • Mengubah Sudut Pandangmu

Kebanyakan siswa yang mengalami stres memiliki pandangan bahwa nilai tinggi dalam akademik adalah segalanya. Pandangan seperti inilah yang dapat menimbulkan stres ketika kita mendapatkan nilai yang rendah. Memang, mendapatkan nilai buruk, gagal ujian, atau tidak lulus bisa membuat kita malu dan menghancurkan harga diri. Tetapi, perasaan malu tersebut dapat menjadi bermanfaat jika kegagalan yang kita alami menjadi pemicu untuk belajar dari kesalahan kita dan mengadakan perbaikan di kesempatan selanjutnya. Kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaikinya dan berupaya lebih keras lagi.

Cobalah untuk mengubah sudut pandangmu. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Semua akan berakhir dengan baik. Jika belum baik, maka belum berakhir. Ingat, orang sukses bukan berarti mereka yang tidak pernah gagal. Orang sukses adalah mereka yang gagal berkali-kali tetapi masih mampu mencoba dan belajar dari kesalahannya. Lebih baik menyesal setelah melakukan daripada menyesal sebelum melakukan. Ketika kita dihadapkan dengan situasi yang sama, maka kita sudah mempunyai pengalaman tentang kegagalan di masa lalu sehingga kita tahu harus melakukan apa ketika dihadapkan dengan situasi yang sama.

  • Perkuat Diri dengan Iman dan Takwa

Pada dasarnya, hasil yang kita peroleh dari ujian sekolah merupakan salah satu dari bentuk ujian Tuhan kepada kita. Nilai yang tinggi mengajarkan kita untuk tetap rendah hati dan meningkatkan kerja keras kita untuk mempertahankan nilai tinggi tersebut. Sedangkan nilai yang rendah mengajarkan kita untuk tidak berkecil hati dan berusaha lebih keras untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Jadi, kita tidak perlu stres ketika mendapatkan nilai yang rendah karena Tuhan menginginkan kita untuk bekerja lebih keras dan Tuhan sangat mencintai orang-orang yang bekerja keras untuk hal positif.

  • Tentukan Daftar Prioritasmu

Salah satu faktor penting yang menyebabkan pelajar mengalami stres di sekolah adalah tugas yang menumpuk. Oleh karena itu, buatlah daftar prioritasmu untuk menentukan mana tugas yang harus cepat diselesaikan dan mana tugas yang bisa ditunda. Hal ini akan membuatmu lebih tenang dalam mengerjakan tugas dan bisa mencegah stres yang berlebihan.

  • Mengatur Waktu dengan Baik

Mampu mengatur waktu dengan baik merupakan salah satu solusi paling ampuh dalam menghindari stres yang dialami para pelajar. Hal ini dapat membuat seluruh aktivitas yang harus dilakukan dapat teratur dengan baik dan seimbang. Ada siswa yang rajin sekali belajar sampai melewatkan waktu istirahatnya. Tentu saja hal ini berdampak buruk pada kondisi tubuhnya. Sebaliknya, ada siswa yang banyak menghabiskan waktu untuk bermain dan tidur, sedangkan waktu belajarnya selalu ia lewatkan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa perlu adanya jadwal yang teratur supaya kegiatan yang kita lakukan dapat seimbang dan kita tidak stres dalam menjalani berbagai aktivitas tersebut.

  • Kembangkan Hobimu

Langkah selanjutnya ialah melakukan aktivitas yang kita sukai. Jangan terlalu fokus kepada pembelajaran di sekolah. Ada waktunya kita untuk melepaskan diri dari tugas sekolah dan menikmati aktivitas yang kita sukai. Misalkan, saya mempunyai hobi bermain sepak bola. Maka ketika perasaan stres mulai menghampiri, saya akan bergabung dengan teman-teman saya untuk bermain sepak bola. Bahkan, kalian bisa mengembangkan hobi kalian untuk memberikan penghasilan yang cukup menggiurkan. Contohnya, bagi kalian yang punya hobi menulis dapat membuat blog sehingga dapat memberikan penghasilan disamping untuk bersenang-senang.

  • Temukan "Teman Curhat"

Cobalah untuk menceritakan kesibukan-kesibukanmu kepada teman terdekatmu. Hal ini dapat membuatmu lebih tenang dan mencegah datangnya stres. Jika di rumah, kalian bisa bercerita kepada orang tua mengenai keluhan-keluhanmu di sekolah. Mereka akan mengerti dengan situasimu dan memberikan motivasi yang sangat berarti bagimu.

  • Siapkan Dirimu dalam Menghadapi Ulangan dan Ujian

Kegiatan ini merupakan hal-hal yang sebaiknya dilakukan siswa ketika akan menghadapi ulangan dan ujian karena salah satu penyebab stres pada siswa adalah mendapatkan nilai yang rendah. Cobalah untuk memahami materi yang akan diujikan dengan santai dan tenang tanpa beban. Kegiatan ini akan menghindarkan siswa dari kecemasan dalam menghadapi ulangan dan ujian. Adapun persiapannya antara lain mempersiapkan materi yang akan diujikan, membuat ringkasan, membaca materi berulang-ulang kali, dan RILEKS. Sikap yang tergesa-gesa akan membuat pekerjaanmu tidak produktif.

Saya akan menutup artikel ini dengan mengutip ucapan dari Ust. Nouman Ali Khan. Beliau mengatakan, "Kunci sukses hanya ada dua. Kerja keras dan pertolongan Allah. Ketika kita bekerja keras, maka di sana ada pertolongan Allah. Ketika kita malas, maka di sana tidak ada pertolongan Allah."

Posting Komentar

3 Komentar

  1. Keren����
    Sangat menginspirasi✨
    Semoga sukses selalu����✊����

    BalasHapus